Jumat, 22 Juni 2012

MANTIQU'T THOIR

Mantiqut thoir ( Musyawarah Burung / Rembugan Manuk ) atau dalam bahasa dunianya The Conference of the Bird adalah Lembaran Kisah yang dibeberkan oleh Ulama Agung FARIDUDDIN ATTHAR, bagaikan samudra tak bertepi yang menceritakan permusyawarahan para burung dari berbagai jenis dan dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul dalam satu majlis dalam membahas PENCARIAN TUHAN.

~

~

Alkisah berkumpullah segala macam burung di dunia ini baik yang dikenal maupun yang tidak.

Burung burung itu mau menyelenggarakan musyawarah. Mereka meyadari bahwa ternyata kerajaan burung tidak memiliki raja. Padahal tidak ada negeri manapun yang tidak beraja. Dan tidak ada suatu negeri yang mampu menyelenggarakan pemerintahan yang baik tanpa seorang raja.

Keadaan yang demikian tidak boleh dibiarkan terus. Mereka membutuhkan seorang yang kuat yang mampu melindungi mereka. Lalu tampillah burung Hudhud ke depan majlis, Berkatalah ia "Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia - rahasia ciptaannya".

ia juga bercerita bahwa sebenarnya mereka mempunyai raja sejati, bernama SIMURGH. ia tinggal di pegunungan yang tinggi dan dia raja di segala raja.

Rabu, 20 Juni 2012

SYI’IRAN AL BARMAWI
(lagukan dengan nada lagu “Rohatil athyaru tasydu' dari langitan)


Abdullah nama ayahnya # Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya # Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia # Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia # Dari Quraisy ternama
Dua bulan di kandungan # Wafat ayahandanya
Tahun gajah dilahirkan # Yatim dengan kakeknya
Sesuai adat yang ada # Disusui Halimah
Enam tahun usianya # Wafat Ibu terpuja
Delapan tahun usia # Kakek meninggalkannya
Abu thalib pun menjaga # Paman paling membela
Saat kecil menggembala # Dagang saat remaja
Umur dua puluh lima # Memperistri Khadijah
Di umur ketiga puluh # Mempersatukan bangsa
Saat peletakan batu # Hajar aswad mulia
Genap empat puluh tahun # Mendapatkan risalah
Ia pun menjadi Rasul # Akhir para Anbiya
Inilah kisah sang Rasul # yang penuh
suka duka # yang penuh suka duka

Minggu, 10 Juni 2012

Manaqib Al Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya, Jagasatru Cirebon


Al Habib Muhammad bin Syekh bin Yahya, Jagasatru Cirebon

Suatu hari, rumah Habib Alwi, ayah Habib Anis Solo, di datangi Habib Syekh Cirebon atau yang akrab disapa “Abah Syekh”. Habib Alwi menyambut dengan hangat, soerang santri kemudian disuruh untuk menyiapkan jamuan. Entah mengapa selama membawa dan menyiapkan jamuan satri tersebut menundukkan kepala. Si santri rupanya menenal baik tamu itu dan berharap tamu itu tidak sampai mengenalinya. 



Setelah berbincang ringan dan saling bertukar kabar, Abah Syekh kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, ia ingin mejenguk putranya. Habib Alwi tampak heran, karena ia tak tahu ada putra Abah Syekh nyantri di sini. Kemudian Habib Alwi bertanya siapa yang dimaksud. Dengan tenang Abah menjawab, “itu yang sedang menuangkan air”, ini putraku. Tentunya Habib Alwi terkejut ternyata santri yang hampir dua tahun mengerjakan tugas rumah ternyata putra Habib Syekh, Ulama besar Cirebon. Padahal jika ditanya putra siapa, sang santri tadi menjawab aku putra “Abdullah si tukang air”, tentunya sang santri tidak mau berbohong dan identitasnya diketahui karena dulu Ayah beliau “Abdullah : Hamba Allah” sempat berdagang air ketika menimba ilmu dan menetap di Makkah. Begitulah kebiasaan Habib Muhammad bin Yahya supaya perlakuannya disamakan dengan santri lainnya. Setelah latar belakangnya terungkap kemudian ia meminta izin ke Habib Alwi untuk berguru di tempat lain.

Rabu, 06 Juni 2012

syair padang bulan dari habib Luthfi bin Yahya (pekalongan)



 ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻭَﻣَﻮْﻻَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
═══════════════
 ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﻋِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻼَﺓً ﺩَﺍﺋِﻤَﺔً ﺑِﺪَﻭَﺍﻡِ ﻣُﻠْﻚِ ﺍﻟﻠﻪِ

 { Padang bulan, padange koyo rino.
Rembulane sing ngawe-awe } 2X
Ngelengake, ojo turu sore.
{ Kene tak critani, kanggo sebo
mengko sore } 2X

Selasa, 05 Juni 2012

Cermin ke-Tawadhu'-an KH Habib Mohammad Lutfi Ali Yahya

Cermin ke-Tawadhu'-an KH Habib Mohammad Lutfi Ali Yahya
Suka Musik Beethoven

Zaman kepungkur zaman buntutan
Esuk-esuk luru ramalan
Gambar kucing dikira macan
Bengi diputer metu wong edan
Buntutan ilang gantine togel
Akeh wong ngerti iku ora halal
Kana-kene dikandani angel
Luwih percaya marang peramal
Saiki zaman lara
Marang ulama ora percaya
Semono uga marang negara
Kana-kene akeh gara-gara
Tukang fitnah pada gentayangan
Seneng ningali akeh perpecahan
Tunggal dulur pada tukaran
Eling-eling para sedulur
Kita wajib jaga persatuan
Mumpung isih pada panjang umur
Pada dadia suri tauladan


PENTINGNYA HUSNUDZDZONN

PENTINGNYA HUSNUDZDZONN
Husnudzon (berbaik sangka) Terhadap Para Imam Sebagai Pijakan psikologis Ahlusunnah

Oleh: Al Habib M. Lutfi bin Ali Yahya

Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin washshalatu wassalamu 'ala asyrafil anbiyai wal Mursalin wa'ala alihi washahbihi. Amma Ba’du.

Wajib bagi para mukmin akan menjaga hakikat dan memperkuat akidah salafus salihin dari segala yang merusak akidah dan prasangka terhadap para salihin, tokoh-tokoh Ahlu Sunah wal Jamah atau para A’imah, imam-imam. Sebab sering timbul prasangka-prasangka yang kurang baik terhadap para a’immatu shalihin, para imam-imam yang sholih. Akhirnya kita akan mengukur kealiman, kealamahan para ulam al Mutaqadimin, ulama-ulama terdahulu. Seperti para tokoh-tokoh tasawuf, tokoh fuqaha, tokoh-tokoh ahli tauhid, dan tokoh-tokoh ahli hadis. Tokoh-tokoh Tauhid seperti Imam Abu Hasan al Asy’ari dan Imam Abu Mansur al Mathuridi.


Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar

Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar
Oleh: Maulana Al-Habib M. Luthfi bin Yahya

Antara satu sahabat dan sahabat yang lainnya memiliki keutamaan yang berbeda-beda. Tapi pasti masing-masing sahabat mempunyai sirrul A’dzom, keutamaan yang luar biasa. Keutamaan sahabat Abu Bakar, Sahabat Umar, Sahaba Utsman, Sahabat Ali semuanya hakikatnya adalah untuk umat. Bahkan kelemahan mereka adalah untuk umat. Mohon sampai sini tidak disalah pahami.

Pada uraian sebelumnya saya membahas tentang sahabat Abu Bakar. Sahabat Abu Bakar ini adalah sosok yang pengabdiannya pada agama dan pada Nabi Saw sangat total. Sebagai ilustrasi kita merujuk pada peristiwa Hijrah Nabi Saw. Bermula ketika di Gua Tsur Sayidina Abu Bakar Sidiq menutup lubang-lubang yang ada di gua itu dengan pakaian beliau, ketika masih ada lubang yang tersisa, terpaksa lubang tersebut beliau tutup dengan jempol kaki beliau.